Dari Gorontalo untuk Sulbar: Belajar Hilirisasi Kelapa ke UMKM Helco Melati
GORONTALO- Keikutsertaan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat dalam rangkaian kegiatan Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo tidak hanya dimanfaatkan untuk mengikuti agenda utama PENAS, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk memperluas wawasan dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan studi banding ke UMKM Helco Melati, salah satu UMKM binaan BRMP Gorontalo yang sukses mengembangkan usaha pengolahan minyak kelapa berbasis teknologi modern.
Kegiatan studi banding dipimpin langsung oleh Kepala BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni Panikkai dan turut dihadiri oleh Kepala BBRMP Jambi, Kepala BRMP Bengkulu, serta Kepala BRMP Kalimantan Selatan. Selain itu, kegiatan juga diikuti oleh para Ketua Kelompok Substansi (Kapoksi) Penerapan dan Kesesuaian, Ketua Tim Kerja (Katimker) diseminasi bersama tim.
Selama pelaksanaan kegiatan, rombongan mendapat pendampingan langsung dari Tim BRMP Gorontalo selaku tuan rumah yang memfasilitasi seluruh rangkaian studi banding. Tim BRMP Gorontalo memberikan penjelasan mengenai sejarah perkembangan UMKM, strategi pembinaan yang dilakukan, hingga berbagai inovasi teknologi yang diterapkan dalam proses pengolahan minyak kelapa. Pendampingan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pengembangan usaha berbasis komoditas lokal yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing.
Bertempat di Desa Huidu, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, peserta memperoleh kesempatan untuk menyaksikan secara langsung seluruh tahapan produksi minyak kelapa, mulai dari pemilihan bahan baku, proses ekstraksi santan, pengolahan, pemisahan minyak, pengurangan kadar air, hingga pengemasan produk siap dipasarkan. Melalui kunjungan ini, peserta dapat melihat bagaimana teknologi modern diterapkan secara efektif untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus efisiensi usaha.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian peserta adalah penggunaan teknologi dan peralatan pengolahan yang modern pada UMKM Helco Melati. Dalam proses produksinya, UMKM ini memanfaatkan mesin pengolah yang mampu mengekstrak santan dari daging kelapa secara lebih cepat dan efisien. Santan yang dihasilkan kemudian diproses lebih lanjut melalui tahapan pemanasan dan pengurangan kadar air hingga menghasilkan minyak kelapa berkualitas tinggi. Penggunaan teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi proses produksi, tetapi juga membantu menjaga mutu, kebersihan, dan konsistensi produk yang dihasilkan.
Pengelola UMKM Helco Melati menjelaskan bahwa penerapan teknologi pengolahan tersebut turut memberikan dampak signifikan terhadap kualitas dan daya simpan produk. Melalui proses ekstraksi santan menggunakan mesin serta pengolahan yang mampu menurunkan kadar air secara optimal, minyak kelapa yang dihasilkan memiliki tingkat kestabilan yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengolahan konvensional. Jika sebelumnya minyak kelapa hanya mampu bertahan 2 minggu hingga 2 bulan, maka dengan penerapan teknologi tersebut daya simpan produk dapat meningkat menjadi 6 hingga 12 bulan tanpa mengurangi kualitas, aroma, maupun karakteristik alaminya.
Peningkatan umur simpan ini menjadi nilai tambah yang sangat penting karena memberikan peluang lebih besar dalam memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memperkuat daya saing produk di pasar yang semakin kompetitif. Selain itu, penerapan teknologi pengolahan modern ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi pada sektor hilirisasi pertanian mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal dan mendorong pertumbuhan UMKM yang berkelanjutan.
Keberhasilan UMKM Helco Melati juga terlihat dari aspek legalitas dan jangkauan pasarnya. Produk minyak kelapa yang dihasilkan telah memenuhi berbagai standar mutu dan keamanan pangan dengan mengantongi izin BPOM, PIRT, Sertifikat Halal, serta Sertifikasi SNI Organik. Kelengkapan sertifikasi tersebut menunjukkan komitmen UMKM dalam menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Tidak hanya berhasil memenuhi standar mutu, produk minyak kelapa Helco Melati juga telah menembus pasar yang lebih luas dan dipasarkan melalui berbagai swalayan modern. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk olahan berbasis komoditas lokal mampu bersaing di pasar apabila didukung oleh penerapan teknologi yang tepat, pengelolaan usaha yang profesional, serta pemenuhan standar mutu yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Dalam sesi diskusi, peserta juga menggali berbagai informasi terkait manajemen usaha, strategi pemasaran, pengembangan kemitraan, hingga proses memperoleh sertifikasi produk. Berbagai pengalaman dan praktik baik yang diterapkan oleh UMKM Helco Melati menjadi inspirasi bagi peserta dalam mendorong pengembangan UMKM berbasis pertanian di wilayah masing-masing.
Kepala BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni Panikkai menyampaikan apresiasi atas keberhasilan UMKM Helco Melati dalam mengembangkan usaha pengolahan minyak kelapa yang mampu mengintegrasikan teknologi, kualitas produk, serta strategi pemasaran yang efektif.
"Kami melihat bahwa model usaha yang dikembangkan oleh UMKM Helco Melati sangat potensial untuk diterapkan dan dikembangkan di Sulawesi Barat. Daerah kita memiliki potensi kelapa yang sangat besar dengan kualitas yang baik dan ketersediaan bahan baku yang melimpah. Melalui penerapan teknologi seperti yang kami pelajari di sini, potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha," ujar Dr. Sumarni Panikkai.
Beliau menambahkan bahwa keberhasilan UMKM Helco Melati memperoleh berbagai sertifikasi seperti BPOM, PIRT, Sertifikat Halal, dan SNI Organik, serta kemampuannya menembus pasar swalayan modern merupakan bukti bahwa produk olahan kelapa memiliki prospek yang sangat menjanjikan apabila dikelola secara profesional.
"Harapan kami, pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi Sulawesi Barat untuk mengembangkan industri pengolahan kelapa yang lebih maju. Dengan potensi kelapa yang kita miliki, saya optimistis Sulawesi Barat mampu menghasilkan produk-produk unggulan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar regional maupun nasional. Hilirisasi komoditas kelapa harus menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah dan sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat," tambahnya.
Kegiatan studi banding ini menjadi salah satu bentuk nyata sinergi antar unit kerja lingkup Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian dalam memperkuat jejaring, berbagi pengalaman, serta mendorong percepatan modernisasi pertanian berbasis inovasi dan hilirisasi produk. Dengan memanfaatkan momentum PENAS XVII sebagai sarana pembelajaran lapangan, diharapkan hasil studi banding ini dapat diimplementasikan untuk mendukung pengembangan UMKM dan usaha pertanian yang lebih maju, modern, berdaya saing, serta mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi petani dan masyarakat.(MN)